ROKOK MENCABUT NYAWA IBU TERCINTA
Awan merayap pada pucuk daun
cemara, menggenang air hujan di salah
satu sudut gerbang SMA Negeri 22 Jakarta Timur.
“ Bruakkkk..... ”,
hentakan kaki Dias melewati pagar
setinggi tiga meter.langkahnya perlahan menyusuri halaman sekolah menuju
belakang kantin. Disitulah Dias menghabiskan waktu paginya dengan ditemani
puntung rokok.
Dias menghabiskan paginya untuk merokok. Murid
SMA Negri 22 jakarta timur yang berlangganan sanksi skor, hari ini masih telat
masuk jam pelajaran. Perlahan Dias mengintip ruang E-5. Di ruang inilah jam
pelajaran yang akan diikuti Dias selanjutnya. Dias masuk kelas dengan langkah
mundur menuju tempat duduk kosong dibelakang Tino. Hal jail muncul difikiran
tino. Belum sempat Dias sampai di tempat duduk yang ia tuju, tiba-tiba Tino
mengangkat tangannnya, dan bertanya pada pak Firman
“pak...... kata
setelah dari pada, itu apa pak?” ucap Tino memecah keheningan
Saat itu juga, pak
firman menghentikan aktivitas menulis penjelasan pelajaran kewarganegaraan
dipapan tulis,dan langsung menoleh kebelakang.
“Dias........., kamu telat lagi?”ucap pak
firman seraya mendekati tempat dimana Dias berdiri.
Tak ada kata-kata
yang keluar dari mulut hitam Dias, dia hanya melihat sekeliling kelas sambil
memendam jengkel pada Tino.
“keluar dari
kelasku” kata pak firman datar, seraya menunjuk arah pintu keluar kelas.
Usai pelajaran kewarganegaraan, Dias menuju
kantin. Bergabung dengan teman satu
grubnya, dan melupakan semua kejadian yang telah berlalu dari tadi pagi. Saat
sedang asyik bercanda, Dany tidak sengaja menumpahkan saos dilengan Dias.
“aduh, maaf Dias”
potong Dany, salah satu dari ketiga teman dias
“tak apa lah, biar
aku ke toilet untuk membersihkan ini,” tangkis Dias sambil berdirii dari tempat
duduk dikantin.
Dias melangkah
tanpa memperhatikan jalan, hanya berusaha membersihkan keadan lengannya
yang penuh dengan saos dari tangan Deny tadi. Ketika hampir sampai ditoilet,
dan melewati tikungan menuju kamar mandi satu,
“dugg .....” Dias
dan Tino saling bertubrukkan.
“maaf, maaf,
maaf....” ucap Tino tanpa memperhatikan siapa yang menabraknya tadi.
“apa maksudmu tadi dikelas?” bentak Dias
jengkel, sambil membersihkan debu di badannya, usai jatuh tadi.
Tanpa tangkisan kata
apapun, Tino meninggalkan dias dengan keadaan muka merah. Pukul 12.30, para
murid mulai berhamburan keluar. Dias berjalan menuju gerbang sekolah yang
berada dibelakang ruang H-7, ruangan terakhir pelajaran Dias.
Dias menunggu
kedatangan Deny, Reva, billy, dan Efan. Dengan ke empat temannya tadi, ia selalu mampir di warung mpok Emy penjual kopi
tubruk jawa. Setelah puas menikmati secangkir kopi mpok Emy, Dias baru
melangkah menuju rumah di gang mawar no.13. di situlah dias hidup bersama ibu
dan adik perempuannya, Emil yang duduk di bangku SMP kelas 2.
Selama 2 tahun
teakhir, mereka hidup dari kantong Emil. Ke tiga beasiswa yang didapatkan Emil
sejak masuk SMP 1 Harapan Jaya, dapat mencukupi kehidupan keluarga dan sedikit meringankan
beban tanggungan biaya Dias yang duduk di kelas 2 SMA.
“mana Emil bu? Aku
laper” tanya Dias yang sedang melepas putih abu-abu dikamar mandi.
“tahan laparmu, lauk telurnya baru dibellikan
adikmu” ucap lirih ibu Dias, sambil memberikan air putih kepada Dias
Tanpa sempat
mengambil air putih ditangan ibunya, Dias langsung masuk kamar dan menutup
pintu triplek. Hampir 2 jam, Emil pergi membeli telur diwarung bu Endang. Rasa
curiga mulai menggatal, Dias keluar kamar dan berniat menyeret adik perempuan
satu-satunya itu pulang kerumah. Tanpa pamit, Dias perlahan menuju pintu
samping rumah menghindar dari keberadaan ibunya dan keluar rumah. Belum sempat keluar
pintu, Dias mendengar suara montor Tino berhenti didepan rumah. Seketika itu
juga, Dias memutar arah menuju ruang tamu. Kagetnya, Dias mendapatkan Emil bersama
Tino dengan luka kaki yang telah diobati, berjalan menuju ruang tamu.
“ kenapa bisa
terjadi seperti ini nak??” tanya sang ibu sambil memeluk emil.
“brug........., ”genggaman dias jatuh di pipi
kanan tino yang sedang berdiri didekat emil
“pulang kau sekarang
juga” ucap dias tanpa memperhatikan keadaan haru diruang tamu. Sejak saat itu,
kebencian dias semakin memuncak pada tino.
Kebiasaan merokok
dias semakin menjadi. kini intensitasnya semakin bertambah. Kebiasaan merokok
inilah yang mengubah gaya hidup dias menjadi semakin tidak karuan.
Selama tiga bulan penyakit
komplikasi paru-paru kanan sang ibu disembunyikan secara rapi. Hingga dias dan
emil tidak mengetahui penyakit komplikasi akut yang diderita ibunya.
Tidak seperti
biasanya, emil telah bergegas ke sekolah sejak pukul 06.30 pagi tadi. Di ikuti
dias yang mulai memperbaiki jadwal hidupnya. Kali ini dias lebih rajin, entah
ada udang dibalik batu seperti apa yang dapat mengubah presepsi sikap baik dias
ini. Pukul 7 kurang 15 menit, dias telah menenteng tas menuju sekolah yag jarak
dari rumahnya hampir satu kilometer.
Pagi itu, tino
datang kerumah. Tino berniat memberikan buku tugas minggu kemarin yang
ditinggalkan dias dimeja kelas. 3 kali mngetuk pintu, tino masih belum
mendapatkan jawaban dari dalam rumah. Akhirnya, pintu samping rumah dias
didobrak tino. Terkapar seorang perempuan lanjut usia dibelakang pintu depan.
Tanpa pikir panjang, tino langsung menyalakan sepeda motor melaju kesekolah dan
ingin mengabarkan kabar buruk ini.
Cerita
Pendek
Kisah
nyata atau fiksi yang ditulis:
•tentang seseorang atau suatu peristiwa atau suatu kejadian yang
menarik perhatian,
•dikemukakan dengan model cerita,
•dituangkan
dalam satu kali pemaparan secara all-in (awal sampai akhir harus selesai
dalam satu tulisan)
Pilihan
Topik/Tema (1-4)
•Mendapat sangsi karena berbuat “ngawur” (teori kognisi)
•Terjerumus ke dalam narkoba karena teman (teori medan)
•Tersisih dalam pergaulan karena terlalu mengejar keuntungan (teori
pertukaran sosial)
•Pementasan
yang gagal karena respon penonton mengecewakan (teori belajar sosial
·
Terlalu banyak
pekerjaan sehingga semuanya tidak sukses (teori peran)
•Peniruan yang membabi buta (imitasi)
•Tertipu oleh rayuan serigala berbulu domba (sugesti karena
pikiran bingung)
•Idolaku, teladanku, mengapa kau buat video porno?
(identifikasi)
•Cacatmu
adalah kelebihanmu (simpati